A weird week

Usually I don´t write a lot about my daily life. Or do I?

However, my last week, or rather last weeks (in plural) were quiet weird. Weird in which way? In all possible ways I guess. Full of stress, tears, laughter, love, all kind of emotions, experiences and lessons. Especially because of the last one I thought about writing it down. For myself on the one hand, to remember what I learned out of those weird days, and on the other hand in hope that someone can take a benefit out of it.

Honestly I have no idea where to start. So I just write it down the way it comes up in my mind.

So I´ll start with the insights I made the last weeks. In form of quotes because it´s my favorite way to capture them in a short but meaningful way. In the following I gonna explain some of them more deeply. But I am not sure if I make to tell the background of all of them. At least not in this post.

  1. I am tired of letting go of the people I love – of the people that are important to me.
  2. Kata orang friendzone itu ga enak. Tapi aku lebih milih menjadi teman karena pertemanan ga ada kata putus.
  3. “Sometimes you have to lose a thing to realize how important it is to you” they say. And sometimes you have to lose a thing that is important to you to realize that you can live without it. Life may be different, but it´s not over! Even though if it is one of the most precious things to you. Because if Allah would new that you couldn´t live without it, He wouldn´t have taken it from you.
  4. Jodoh itu ga kemana. Pasti ketemu lagi.

 

Kali yang terakhir yang paling terterik ya. Karena orang pada senang banget ngomongin dan dengarin soal jodoh. (Ko ga bosan ya ngomongin jodoh terus?)

Latar belakang quote ini (sorry for switching to Indonesian, only relating to the quote):

Jadi minggu ini banyak hal yang hilang.

Hp ku hilang. Tapi ketemu lagi.

Sepeda aku hilang. Tapi ketemu lagi.

Bisa dibilang dua barang yang sangat berharga buat aku. Dan itu bukan karena biaya yang pernah di keluarin untuk mendapatkannya. Tapi karena banyak kenangan, pengalaman, catatan/ isi hati (di hp) yang ada di kedua benda itu. Terutama sepedaku. Teman setia sejak kelas 7 atau 8 (SMP). Kemana-mana ditemenin: sekolah, hutan, naik turun gunung (lebih tepat bukit sih, ga tinggi-tinggi amat), di pagi, siang, malam hari, kehujanan, kepanasan, masuk lorong, di saat sedih, bahagia. Banyak cerita aneh pokonya yang udah di alamin bersamanya. Jatuh bersama, bangkit bersama. Seandainya bebep alias sepedaku hilang dan ga ketemu lagi, udah bete banget fix. Kalau hp mungkin masih bisa rela, tapi sepeda… sulit, sangat.

Pelajaran dari pengalaman itu: Jangan panik. Keep calm and pray. Everything that belongs to you, will come back to you. And in the end, there is nothing that really belongs to you. It´s only borrowed to you by Allah. If He wants to take it from you, accept it. If it´s meant for you, it gonna return to you.

More in detail:

Hari kamis: Deadline tugas udah kelewat satu hari. Kenapa bisa sampai kelewat? Bakal ada ceritanya, see below. Pokonya seharian kerjain tugas, semalaman sampai siang. Karena siangnya harus anterin ke kantor pos agar ga ketauahun kelewat deadline. Sampai saat ini belum dapat kabar dari dosen, mudah-mudahan aja baik hati si bapak. Habis anterin ke kantor pos, packing karena mau pulang ke rumah ortu (tempat kuliah jauh dan aku ngekos, jarang ke rumah jadinya), ambil sepeda, gowes ke stasion kereta. Pikiran di saat nyampai: “Alhamdulillah, on time banget nih. Masih ada 10 menit lagi sampai kereta datang. Bisa nitip sepeda ke garasi khusus biar aman karena agak lama sampai balik.”

Taunya hp hilang. Ga ada di saku jaket. Biasanya memang ga naro disitu karena takut jatuh. Kali ni entah kenapa aku mikir, kali butuh ntar biar gampang keluarin taro di saku aja, ga di tas. Ternyata beneran jatuh. Ya udah balik lagi nyari hp. Udah kaya orang ga benar, naik sepeda pelaaan banget. Liat ke bawah terus kan, ga perhatiin depan, takut nambrak sebenarnya tapi untung engga. Udah mulai gelap lagi. Sepanjang jalan berdoa “Ya Allah semoga hp aku ketemu. Lagi butuh banget nih. Nanti gimana bales doi. Mau pergi 5 hari, ga bisa ke kantor polisi lagi. Nanti cari jalan gimana. Ya Allah, Allah Maha baik, Maha Kuasa, semoga ketemu.” Sambil baca ayat2 suci, dzikr apalah yang lagi ingat. Di pertengahan jalan balik ke rumah (perjalan biasanya butuh waktu kurang lebih 15 menit) lewatin lampu merah ada cogan pakai sepeda, pegang hp, lagi utak-atik. Aku perhatiin “Jangan-jangan hp aku nih. Semoga itu hp aku ya Allah”. Aku dekatin dan lupa aku yang nyamperin atau dia. Kali udah keliatan dari muka aku yang setres abis dan bola mata yang membulat lihatin benda yang dipegang abangya.

“Kamu baru nemu hp itu?”

„Iya, itu punya kamu?“

„Iya“ senyum lebar. Senang banget. Langsung pengen peluk si abang. Tapi engga deng, masa peluk orang ga kenal, cowo lagi. Btw ga cogan, udah lupa mukanya. Ga perhatiin juga.

Pengennya sujud syukur di tempat. Tapi tar dikirain aneh. Jadi bilang makasih aja, simpen hp baik-baik di ransel dan caw ngejar kereta. Masih ada 3 menit. Rasanya ajaib untuk kekejar. Orang lain kali udah nyerah, nyantai aja, jalan2 ke kota dulu. Tapi ga ada kata nyerah di kamus aku. Kan ada Allah, jadi ga ada yang ga mungkin. Jadi gowes lagi sambil baca Alhamduillah berkali2 karena hp udah ketemu dan disambung berdoa „Ya Allah, mudahkan hamba untuk nyampai di stasion masih kekejar kereta biar ga usah nunggu sejam dan ga pulang kemaleman. Atau jadiin keretanya delay agar masih kekejar. Hamba tau itu sangat mudah bagiMu. La haula wa la kuata illa billah.“ Dan ternyataaa I made it. Allah memudahkan. Hp balik, kereta kekejar, tugas beres, bisa duduk manis di kereta dan nafas lega.

Hari-hari kemudian…aduh kalau di certain semuanya kepanjang deh. Kejadian terkesan aja ya. Jadi ke rumah ortu hanya semalam karena pagi kemudian udah harus berangkat ke Tübingen, kota di Jerman selatan. Tapi hari senin mau ketemu sama Mama di Freiburg, masih dearah selatan. Ketemu sama ibu bukan di rumah tapi di ujung negara ayayay. Rencana kesana Mama ingin ketemu sama teman2 dari indonesia yang ada seminar disana. Aku jadi guide. Padahal ga mood banget. Pengennya kunci di kamar dan menyindiri. Kenapa? Yah kadang suka gitu.

Malamnya di saat mau tidur, satu ranjang sama Mama, pecah semuanya. Aku nangis selepasnya, udah ga tahan. Kenapa nangis? Lagi sakit hati. Engga deng. Tapi benar. Minggu lalu sempat ngedrop total. Kerjain apa-apa rasanya ga sanggup, apalagi kerjain tugas kuliah yang persayaratannya nulis minimal 10 lembar. Hari rabu deadline, hari selasa baru sampai 4 atau 5. Bukan karena males, serius, rasanya kaya benar-benar orang sakit, ga bisa ngapa-ngapain. Kalau sakit datang aja ke dokor, dapat surat izin untuk tundain tugas, gampang kan? Gampang, ga gampang sih. Pertama: Ga tau ada doktor dimana, karena sejak kuliah ga pernah ke doktor (di kota kuliah sih). Masalah terkecil, masih bisa dicari. Tapi males karena aku ga suka ke doktor, apalagi kalau ga kenal. Kedua: Bangkit dari tempat tidur aja susah, apalagi kelaur rumah dan datangin dokter. Tapi masih bisa sih di paksain. Ke kampus juga masih sempat ko (kampusnya depan rumah ko). Ketiga: Sakitnya bukan physical, lebih ke mental. Kan malu ngomong ke dokter „Kayanya aku depresi (apa sakit hati?)“ Kaya orang sakit jiwa, gila. Padahal depresi itu penyakit serius. Tapi ga mau ngaku rasanya punya depresi. Kali juga lebay, lagi ngedrop doang.

Ujung2 bisa juga kan selesaiin tugas, walaupun agak telat. Kenapa aku ceritain itu semua? Ga tau juga. Lagi flow nulis aja. Btw jangan ikutin ya, tugas di kerjain sebisanya jauh sebelum deadline. Biar ga kaya aku, udah dekat2 deadline tau2 ngedrop, sakit, apake.

Back to the story. Nangisku pecah dan aku curhat ke Mama. Padahal ga banyak cerita. Malah Mama yang curhat. Cerita tentang masa lalu. Orang yang pernah dia suka tapi ga jadi karena satu dan lain hal. Malah sama doi di kenalin sama Papa. Cerita yang baru aku tau. Dan di pikir2 ternyata laki laki yang dulu Mama suka mungkin bisa di bilang ga baik untuknya. Orangnya punya cewe tapi ga menikah terus punya anak, terus pisah. Kan ngaco. Syukur-syukur Mama dapatnya Papa. Bager banget orangya, setia, jadi Ayah yang baik. Alhamdulillah.  Walaupun ada perjuangannya juga. Insyaa Allah bakal ada cerita detailnya, sedang on process.

Orang yang kita suka belum tentu baik untuk kita. Jangan terlalu percaya kepada perasaan. Bisa jadi itu hanya nafsu. Allah Maha Tau. Maka percayalah apa yang Allah rencanakan bagi kita itu pasti baik.

Dengar cerita Mama bikin aku lebih lega, dikit. Tapi belum menyembuhkan lukaku. Karena luka butuh waktu setelah diobatin, banyak istirahat – dan itu yang ga ada dalam hidupku. I guess I would need a lot of rest to get all the wounds healed. But sometimes too much rest rather makes it worth. You need balance, like for everything in life.

Hari kemudian kita jalan2 ke sebuah kota terpencil di Perancis, dekat perbatasan Freiburg. Kota terlucu, terimut yang pernah aku kunjungi. Tapi tetap ga bakal aku mau tinggal di kota itu karena

Sebagus apapun sebuah tempat, tidak bakal memberi kebahagiaan jika kamu tidak mendapatkan cinta disana.

Apa hubungannya dengan cinta? Ga ada doi, jadi ga ada cinta. Canda deh. Memang ga ada doi. Kurang ramah aja orang2 disana. Setidaknya itu kesanku.

Jalan-jalan di kota itu, namanya Colmar btw, tiba-tiba muncul beberapa orang tentara. Entah mereka datang darimana dan untuk apa. Di depan kita ada sekitar empat, di belakang kita juga. Sayangnya ga ada yang ganteng. Tapi ga begitu perhatiin juga aku mukanya. Liatnya cuma tentara karena pasti keliatan kan, orang pakai seragam tentara toh.

Di depan tentara, di belakang tentara, di h…. ah sudahlah.

Mama liat tentara langsung panik. „Serem nih, banyak tentara. Kaya mau siap-siap.“ Siap-siap apa? Tembak? Asal jangan nembak aku, pasti ditolak. (Apaansih?)

Nyampai lagi di jerman, ternyata ada tentara lagi. Bukan di depan mata sih tapi… ya gitudeh.

Pulang dari Freiburg nyampai di kosan jam setengah satu malam. Pulangnya naik apa? Di jemput? Kaga, ga ada yang jemput. Sedangkan Mama di jemput sang kekasih alias Papa, aku pulang sendiri, naik sepeda. Jam satu malam (atau pagi?) aja di temenin sama si bebep. Setia banget kan.

Lanjut ke kehilangan kedua: Bebep hilang!

Ko bisa? Hilang dimana? Hilang gimana? Ujung2 karena kebodohan sendiri.

Jadi gini: Dekat stasion kereta ada garasi untuk sepeda agar aman nyimpan sepeda disana, ada kamera, pakai atap biar ga kehujanan, ada abang2 yang jagain – pagi sampai sore doang sih. Aku tinggalin bebep disitu, udah beli kunci sepeda baru karena yang lama rusak.

Alasan aku simpan disana karena ada acara diluar kota, tapi cuma sehari or rather semalam. Rencana pulang naik kereta jam 21.30. Tapi ketinggalan kereta. Udah di depan pintu, keretanya jalan. Rasa tersesak. Tapi lebih seseak berade di depan doi lalu di tinggal. Tapi ga tau deh. Ga pernah ngalamin.

Untung ga sendiri. Masih ada uda teman yang kena nasib yang sama (kita mau naik kereta yang beda). Ya sudah enjoy aja, jalan2 ke kota. Padahal serem karena udah malam dan banyak orang aneh. Tapi mau gimana lagi. Di stasion kereta malah lebih aneh orang2nya. Pulangnya aku bareng mereka karena kereta yang langsung ke kotaku entah kenapa lama banget. Kirain naik kereta mereka lebih cepat. Taunya harus nunggu di Hamburg setengah jam. Jadi baru naik kereta jam 23.30. Dan Hamburg Bahnhof (stasion kereta) di saat malam itu ngeri banget menurutku. Karena orang2 homeless rata2 nongkrongnya di Bahnhof. Untung bukan weekend, pasti (lebih) banyak orang mabok disana.

Jadi aku ngapain nungguin kereta setengah jam di tengah malam. Jalan bolak-balik keliling Bahnhof. Kenapa ga cari tempat duduk aja? Cafe yang masih buka hanya sedikit, dan males beli makanan atau minuman. Makan malam2 kan ga baik. Lagian ga suka duduk manis di cafe apalagi sendiri. Keliatan banget jomblo. Padahal ga peduli juga. Paling takut ada yang gangguin.

Arriving at home station: 00.30.

To your information, there is no public transport after 9 pm that´s why you should prepare having your bike ready to get home somehow.

Ya udah aku ke garasi sepeda. Mau ketemu bebep. Lalu: DIATIDAK ADA. Ga ada di tempat yang aku nyimpan sepedaku beberapa jam sebelumnya. Di barisan lain juga ga ada. Bolak-balik tiga kali ga nemu. Kejadian yang paling aku takuti setiap kali aku tinggalin kesayanganku. “Ya Allah nasib hamba apalagi nih.  Baru nyampe jam segini, sepedaku hilang, hp mati.” Nah jadi mau pulang gimana? Naik taxi? Hp mati. Sepeda hilang. Hubungin teman? Ga ada yang bisa dihubungin atau di nyamperin yang rumahnya dekat. Karena memang kurang gaul sama teman2 kuliah, apalagi punya teman akrab untuk di nyamperin tengah malam. Ya udah jalan aja. Gitulah, anak perempuan, berkerudung pulang sendiri jalan kaki, 3,5 km. Ga jauh kan? Sebenarnya engga. Udah biasa jalan. Tapi ini hampir jam 1 malam woy. Tapi mau gimana lagi. Belajar jadi mandiri. Kalau kata teman: Makanya punya pacar biar ada yang jagain. Kalau pacarnya jauh juga percuma. Sama aja bohong. Lagian ada Allah yang jagain. Ngapain punya pacar coba. Terjadi sesuatu ga bisa apa-apa doi. Mending minta ke Allah untuk dijagain, baca doa, dzikir, nambah pahala kan. Dan jadi lebih tawadu insyaa Allah. Karena tanpa kekuasaan Allah manusia tak bisa apa-apa.

Mungkin agak serem jalan sendiri tapi lebih serem dapat dosa jalan berduaan.

Insyaa Allah aman2 aja kotanya, selama ga weekend. Karena weekend pasti ramai. Ramai sama orang2 mabok pulang pesta. Mengerikan. Alhamduillah nyampe rumah dengan selamat. Walaupun di tengah jalan tiba-tiba mules dan pusing. Tapi yang penting berhasil pulang, ga luka, ga ketemu orang aneh, ga di rampok, ga di culik.  Alhamdulillah banget!

Setelah itu hampir semua orang yang aku ketemu aku ceritain sepeda aku hilang. Ceritanya mau curhat karena memang menyedihkan. Padahal ga berguna juga diceritain. Mereka juga ga bakal bisa kemabaliin bebepku. Akhirnya aku sempatin ke garasi sepeda di siang hari. Karena biasanya nyampe Bahnhof udah malam dan ga ada abang yang jagain. Nah tanyain si abang ternyata sepeda aku di simpen di garasi bawah karena sepeda aku ga di kunci saat mereka cek garasi atas. Ko bisa ga di kunciin? Karena aku ngunci sepeda yang salah. Bodo amat emang. Harus beli kunci sepeda baru lah. Two locks in one week. Sakit sih karena mahal. Tapi lebih sakit kalau bebepku ga kembali. Jadi rasa bahagia melebihi rasa nyesel. Benar benar bahagia. Rasanya mau nangis. Nangis bahagia kali ini. Ga mau lepas lagi darinya. Masuk toko aja rasanya berat tinggalin di luar. Takutnya kenapa-napa.

I guess sometimes it´s okay to lose something. Because when it returns to you, you appreciate it even more.

Setelah hp hilang, sepeda hilang, untung kamu ga hilang.  Padahal….

Aku cerita itu ke teman, komen dia:

-Tuh kalau jodoh ga kemana. Berarti udh jodoh tuh sama barang-barang kamu.

-Yah jodohnya barang. Jodoh manusia aja gimana?

-Ya kali jodoh manusia juga pernah hilang tapi nanti kembali lagi.

Lalu mikir, berarti udah ketemu dong kalau pernah hilang. Tapi yaah itu hanya omongan teman sih.

Okay, ini cerita tentang barang. Tapi memberi banyak pelajaran untukku. Bahwa kita harus selalu percaya sama Allah. Ada apa-apa langsung berdoa sama Allah. Pasti diberi jalan. Pasti diberi kemudahan. Dan sebenarnya bukan tentang barang doang. Tentang manusia juga. Tapi belum siap cerita tentang manusia. Terlalu dalam. Terlalu banyak. Lagian udah malam. Dan udah panjang lebar ceritanya. Kali juga ga ada yang baca karena agak geje. Kalau ada yang baca mudah-mudahan berfaedah dikit.

Jadi sekian dari saya.

Dan terimakasih jikalau ada yang sempatin untuk baca. Itu sangat berharga untukku!

Lots of love!

 

 

PS: Mungkin cerita manuisa, cerita cinta, cerita bahagia bakal nyusul. Mungkin tapi ga janji.

Kalau penasaran, aku mulai nulis cerita di Watt Pad. Disitu ada tuh tentang yang gitu-gituan. Alhasil pengalaman sendiri. Tapi banyak yang imajinasi. Jadi kalau baca jangan anggap itu beneran pernah terjadi.

https://www.wattpad.com/story/128802428-jika-takdir-berkata-lain

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s