Pahlawanku – Awal Cerita

Di post terakhir (which that seems like ages ago) aku cerita tentang arti pahlawan dan apa yang membuat seseorang layak untuk dipanggil pahlawan menurutku. Kali ini aku ingin cerita tentang pahlawan pertama dalam hidupku. Seorang pahlawan yang kita semua miliki. Pahlawanku adalah Ibuku. Setiap Ibu punya cerita pengorbanan sendiri dan setiap anak punya cerita perjuangan seorang ibu di balik hidupnya. Nah, ini adalah cerita perjuangan Ibuku yang membuatnya menjadi seorang pahlawan bagi ku dan juga mengapa dia menjadi insipirasi utamaku…

Seringkali orang berpikir menikahi seorang bule itu enak. Ganteng, bisa tinggal di luar negeri, banyak untung dll. Tetapi apakah kalian pernah berpikir sisi-sisi…aku ga mau bilang negatif, tapi ada banyak hal yang tidak begitu enak. Bayangkan aja pindah ke negara lain, meninggalkan tanah air tercinta, jauh dari keluarga, teman-teman, punya kehidupan yang jauh berbeda sama kehidupan sebelumnya (what doesn´t have to be bad but can be quiet hard). Apalagi pindah ke negara non-islam dimana orang muslim adalah minoritas. Mungkin juga meninggalkan perkerjaan, cita-cita yang sudah lama di perjuangkan. Itu tidak mudah. Dan dalam sebuah hubungan itu seringkali bisa menimbul masalah antara dua pasangan jika hanya satu yang mengorban segalanya untuk sang kekasih.

Orang sering tanya gimana orangtuaku bisa bertemu. Ceritanya disingkatin aja untuk kali ini: Mereka satu asrama ketika Ibuku kuliah di Jerman. Dan satu hal yang paling terkesan jika Mama bercerita tentang awal-awal mereka kenal adalah bahwa dulu dia bertanya kepada diri sendiri apa mungkin Papa masuk Islam karena Mama liat akhlaknya baik. Sama sekali ga ada pikiran menjadi pasangan apalagi jodohnya. Aku ga mau cerita terlalu detail biar ga kepanjangan (jujur aku ga tau detail banget banget juga sih). Ternyata lam-lama muncul rasa suka di antaranya tapi (just to let you know) mereka hanya berteman, mungkin sempat menjadi teman dekat tapi ga pernah pacaran. Pokonya syarat Mama kalau Papa ingin bersamanya adalah dua: harus menikah dan kalau mau menikah Papa harus masuk Islam. Papa setuju. Entah apa langsung apa ragu dulu karena keputusan untuk berpindah agama itu bukan sesuatu yang mudah dan bukan hal kecil. Yang aku tau proses sampai mereka menikah itu lumayan lama. Mama balik ke Indonesia dulu untuk beberapa tahun dan Ibunya (Nenekku) awalnya tidak mengizinkannya untuk menikah seaorang bule karena ga mau anaknya jauh darinya. Dari sisi lain Nenek ingin banget Mama menikah karena dia anak satu-satunya yang belum punya pasangan hidup. Mama mengerti keinginginan Ibunya tapi Mama juga ga mau nikah sama siapa-siapa. Karena tidak ada orang selain Papa yang Mama mau nikahi ujung-ujung Nenek setuju. Perjuangan pertama – kesabaran, saling menunggu, sangat jauh satu sama lain, tidak ada social media untuk saling menghubungi – terlewati.

 

 

CIMG0093
The university they studied. Quiet romantic place, right?

CIMG0082

 

 

 

 

 

 

 

Mama ke Jerman. Papa masuk Islam dan mereka menikah. Pernikahannya sangaaat sederhana. Ga pakai adat-adatan, ga pakai baju foya-foya, ga pakai sewa gedung, ga ada makan-makan besar sampai mubazir kiloan. Hanya ada Imam, ayah, ibu, beberapa teman dan saudara-saudara kandung terdekat dari pihak ayah (di acara penikahan sipil). Pokonya seluruh acara seadanya saja. [I just had to mention that karena kadang suka sebel liat pernikahan yang berlebih-lebihan atau bahkan ada yang bilang ga bisa menikah karena kemampuan finansial kurang. Di saat orangtuaku menikah kemampuan mereka pas-pasan. Tapi pernikahan itu ga perlu mewah, sama sekali tidak. Pernikahan itu hanya perlu mendapat ridho Allah, sebagai cara terbaik (read: halal) untuk mempersatukan dua insan agar  menghadapi hidup bersama dan menemu jalan untuk mendekatiNya. Punya pernikahan yang bikin orang lain kagum, iri, memperliatkan sekeren apa acarana atau semacemnya bukan mengantar kepada kebahagian malah sebaliknya (aku belum ada pengalaman pribadi soal itu, hanya pendapat saja). Dari contoh orangtuaku aku bisa belajar: mereka nikah sederhana tetapi itu sama sekali tidak menjadi alasan untuk tidak bahagia kedepannya justru yang ku liat adalah sebaliknya.]

Cerita sampai pernikahan itu baru tahap pertama. Tahap yang masih bisa di bilang mudah di bandingkan sama tahap-tahap berikutnya yang membutuh kesabaran dan perjuangan luar biasa…

cimg0097.jpg
A little more romantic … at least the scenery.

 

Tentang perjuangan yang sesungguhnya itu aku akan menceritakan di tulisan selanjutnya insyaa Allah! To be continued…

 

(Pengen lanjut nulis tapi udah malam almost pagi actually dan pengen upoad juga jadi di lanjut besok2 harinya aja yaa insyaa Allah. Semoga bisa bikin penasaran dikit hehe)

Advertisements

2 thoughts on “Pahlawanku – Awal Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s