Kenapa aku suka sama dia?

Kalau orang nanya: “Nisa lagi suka sama siapa?“ Aku pasti jawab: “Ga suka sama siapa-siapa. Kalau suka sama orang paling sebagai teman aja.” Lalu reaksi teman-teman seperti “Ah bosan” “Yah gitu doang jawabnya”  “Masa ga suka sama siapa siapa” dan semacem itu.

Kalau suka pun ngapain kasih tau orang. Rasa suka terhadapa lawan jenis itu fitrah, setiap orang mengalami perasaan itu. Kalau ga suka sama lawan jenis malah aneh, jangan-jangan suka sama sesama jenis…ga usah dibahas disini deh. Tapi menurutku,  kalau lagi suka sama siapapun ga usah cerita kepada semua orang, sama teman-teman dekat pun juga ga perlu. Kalau di ceritain paling diejekin, ditanya “Gimana sama si ituuu?” Nanti malah mau dipacarin. Kalau muncul rasa suka, dibiarin aja, kalau bisa diabaikan. Dilawan capek, dipikirin malah lebih capek lagi. Mending sibukkan diri sama hal yang lebih penting: sekolah, belajar, ibadah, bergaul sama teman-teman dan keluarga. Kalau susah untuk tidak mikirin si “dia” minta ke Allah agar Dia memberimu jalan yang terbaik.

Mungkin kalian sekarang mikir. “Terus Nisa ga pernah suka sama seseorang?” Pernah ko. Dan suka sama orang tersebut kurang lebih 4 tahun. Let´s say my first crush. Tapi ga pernah dekat. Kalau ngechat paling nanya pr atau soal ujian. Dan itu juga setahun dua kali mungkin. Kalau ngobrol…. ga ingat kapan kita ngobrol berdua, kayaknya ga pernah. Lah terus kenapa suka sama dia sampai lama begitu? Karena tiap hari ketemu. Dia teman kelas aku dan kita kebetulan pernah ekskul bareng (kebetulan 2 atau 3 tahun). Dan selama itu ga ada orang yang tau? Ada deh. Satu saja. Sahabat aku. Kenapa aku cerita ke dia padahal tadi katanya ga ngasih tau ke siapa siapa? Aku pilih sahabt satuku karena kita bukan tinggal di kota yang sama. Berarti sekolah kita beda, dia ga kenal sama teman-teman sekolahku dan ga kenal sama si “dia”. Dan kita ga sering ketemu jadi dia ga bisa sering-sering nanya tentang si “dia”. Dan yaah namanya juga sahabat, udah kayak adek kaka, cerita segala hal, jadi kalau mau cerita ke siapa-siapa, aku cerita ke dia. Teman lain ga ada yang tau, sampai sekarang (sampai ada yang baca postingan ini). Orang tua apalagi ga tau sedikit pun. Aku ga tau apa mereka pernah kepikir bahwa aku suka sama seseorang *sok alim*.

Gimana aku lupain orang itu? Mungkin ga bisa dibilang lupa, soalnya sekarang pun masih ingat bahwa dia ada. Cuma ga tau dia berada dimana, kesibukannya apa, ga pernah mikirin dia dan jujur I don´t really care about him anymore. Jadi istilah yang lebih baik, gimana bisa move on? Ceritanya agak panjang tapi di singkatkan aja: Aku baru berhasil ga mikirin dia, pas udah ga ketemu. Berawal dari studexchange aku ke Indonesia. Disana aku ga bertemu sama “dia”, sebut saja Tim *nama Jerman pasaran*. Disana ada banyak hal lain yang harus aku pikirin. Terus bagaimana ketika balik dari Indonesia, ketika bertemu lagi sama Tim? Apa muncul lagi rasa suka? Apalagi dia sudah putus sama pacarnya (sebelum aku ke Indonesia dia sempat pacaran sama teman baikku). Atau sudah ada pengganti? Hmm soal pengganti, itu beda cerita. Dengan berkenalan sama banyak orang dan mendapat banyak  teman dan pengalaman baru aku makin sadar bahwa Tim bukan tipe cowo aku. Dari sisi fisik – mungkin. Ada beberapa sifat dari dia yang aku suka, ada beberapa sifat yang tidak. Dan di bandingkan sama dia yang dulu aku sukai, banyak yang berubah – dia dan aku juga. Aku sadar kalau ada niat untuk bersama seseorang jangan hanya melihat kenikmatan sesaat tapi pikirkan masa depan juga. Karena aku tidak liat ada kemungkinan untuk masa depan bersamanya, dan ga ada niat juga, yah aku lepaskan saja. (Probably this sounds easier than it is.)

Itu sudah beberapa tahun yang lalu. Terus setelah itu ga pernah suka sama cowo lain? Seperti tadi di bahas rasa suka terhadap lawan jenis itu manusiawi. Tapi setiap kali aku sadar muncul rasa suka, aku  mencoba untuk meliatnya dari sisi rasional. Ada kemungkinan untuk bersamanya di masa depan? Apa dia masuk kritieria calon suami idaman? Terutama agamanya kuat? (Apa agama kita sama?) Apa dia pantas menjadi imam keluarga yang baik, seorang ayah untuk anak-anakku nanti? Jauh banget ya pikiran sampai segitu. Tapi untuk milih pasangan hidup memang harus dipikirin, iya kan? Kalau ada pertanyaan di atas yang terjawab dengan “Tidak” ya sudah lepaskan saja, ga usah pusing dipikirin lagi, didekatin, distalking, apalagi dikejar. Kalau terjawab dengan “Iya” tetep ga usah berusaha utk di dekatin, distalking, dikejar, dll. Serahkan kepada Allah. Kalau berjodoh, Allah akan ngatur dan pertemukan aku dan dia di waktu yang tepat. Kalau ada niat untuk masa depan, cari tau tentang orang yang kita sukai boleh dengan cara yang baik dan pantas. Ga usah susah-susah didekatin, capek-capek cari perhatiannya atau bahkan pusing untuk mikirin si “dia”.

So just let go and leave it to Allah.

Karena Allah Maha tau apa yang terbaik untuk kita.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa aku suka sama dia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s